ANTARA PERANTAUAN,KAMPUNG HALAMAN DAN SEBUAH HARAPAN

Anak tebing lae cinendang




Satu detik yang lalu adalah masa lalu dan tidak akan pernah bisa kembali. Waktu adalah anugerah Tuhan yang begitu luar biasa, tapi tidak banyak orang yang bisa menghargai itu. Mungkin aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang belum bisa menghargai waktu.

Perkenalkan, Namaku Hardinata Simamora seorang pemuda berdarah batak yang lahir pada tahun 1994 bulan akhir di sebuah perkampungan pinggir sungai yang sangat mengesankan karena keindahan air sungainya yakni sungai cinendang atau biasa disebut dengan "lae cinendang" yang letaknya di wilayah paling sudut barat Provinsi Aceh,kabupaten Aceh singkil Kecamatan simpang kanan.

Teman-teman biasa memanggilku Hardi atau Nata. Bisa dikatakan aku adalah seorang bocah Petualang dimasa itu, namun bukan Bocah petualang yang menyenangkan penuh candaan seperti SI BOLANG di tivi-tivi.

Pada tahun 1999, faktor ekonomi yang kurang beruntung membuat orangtua ku berpikiran untuk meninggalkan kampung halaman dan mencoba mencari peruntungan di rantau orang. Di sebuah kecamatan yang tidak begitu jauh dari ibu kota provinsi Riau yakni kabupaten Rokan hilir, kecamatan Rantau kopar menjadi tujuan orang tua ku dalam mencari peruntungan. Melalui perdebatan sengit dan pertimbangan yang matang antara kedua orangtua ku dan kakek-nenek ku, akhirnya mereka memutuskan bahwa aku dan 1 orang adikku ikut bersama orang tuaku. Pada saat itu usiaku masih berumur 5 tahun.

Sepertinya kehidupan baru saja di mulai.Selama berada disana, Aku merasa anak yang paling beruntung didunia. Apalagi ekonomi keluargaku sudah baik-baik saja, apapun yang aku minta selalu ada,kawanku ada dimana-mana, setiap hari main bola liga senja, aku bersekolah di sekolah favorit disana SDN 004 Rantau kopar.
"Aku rindu ".

Di awal tahun 2007, Suara samar mengenai kepindahan diriku ketika lulus Sekolah Dasar nanti sudah terdengar oleh telingaku bahwa aku melanjutkan Sekolah Menengah Pertama tidak di sini,tidak bersama orang tua dan juga tidak bersama adikku. "Aku mulai takut "

Di pertengahan tahun 2007 aku dan kawan-kawanku lulus dari Sekolah Dasar, tentunya kawan-kawanku sangat senang atas kelulusannya,tapi tidak dengan aku. Bagiku tahun itu adalah tahun penuh duka dan bala, disitu ada kecewa dan air mata. Apa yang selama ini aku takutkan menjadi nyata. Rasa nyaman serta kenangan masa kecil selama berada disana harus terpaksa aku tinggalkan begitu saja,sebab orang tua tidak bisa menjamin kami bakalan menetap tinggal disana selamanya. Kali ini bukan faktor ekonomi keluarga dan juga bukan tentang pengusiran warga. Bukan. Melainkan tentang pengantisipasian orangtua terhadap masa depan anaknya.

"Selama ini kita hanya berpetualang nak,disini hanya tempat persinggahan saja. Pergilah nak,ke kampung halaman. Nanti kita pasti berkumpul disana".Ungkap omakku (ibu)dengan mata berkaca-kaca. Pada saat itu,aku dan ibu sudah hampir seminggu tidak tau keberadaan ayahku dimana. Ah menyedihkan!

Bermodalkan harapan, aku berangkat dari Provinsi Riau ke Provinsi sumatera utara dengan menggunakan transportasi darat sebuah Bus"medan jaya", kemudian dari Provinsi Sumatera utara ke provinsi Aceh, akhirnya membawaku sampai ke tujuan,tepatnya di kota subulussalam, Padahal saat itu umurku masih 13 tahunan. Disana aku melanjutkan pendidikanku di salah satu sekolah swasta yaitu SMP Muhammadiyah Subulussalam.
"masa kecilku sudah tersakiti". Keluhanku dalam hati.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2010 akhirnya aku berkumpul lagi bersama keluarga di kampung halaman sebagaimana yang pernah di ucapkan ibuku sewaktu disana. Aku langsung daftar sekolah disini, di SMAN 1 Simpang kanan kab. Aceh singkil. Tanpa ada penjelasan dari orangtua, aku sudah mengerti dan percaya bahwa selama ini mereka memproritaskan anak-anaknya.  Bahkan sampai hari ini, sama sekali aku tidak pernah menyalahkan mereka. "Mak yah, sehat-sehat ya, kita kumpul saja rasanya luar biasa". Ucapku dengan berlinang air mata.

Setelah lulus dari bangku SMA pada pertengahan tahun 2013, aku pun melanjutkan pendidikanku di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Provinsi Sumatera utara(sekarang).
Mulai hari itu kesadaran cara berpikir dalam diriku sangat istimewa. Maksudnya istimewa disini, aku lebih menghargai,lebih belajar, lebih bersyukur lagi dengan apa yang terjadi dan dimiliki. Apalagi apa yang sudah ku alami selama ini bisa menjadikan motivasi dan menambah pengalaman pribadi bagi aku sendiri.

Jika ada cerita duka setidaknya aku juga menyisihkan cerita suka bahwa selama 6 tahun di Sekolah Dasar tidak pernah tinggal kelas, Saat duduk dibangku SMP sempat mewakili Pemko subulussalam dalam PORSENI cabang sepakbola di banda aceh(2008), saat duduk dibangku SMA pernah menghantarkan Sekolahku menjadi juara di tingkat kabupaten-topskor serta pemain terbaik di cabang sepakbola (2012-2013). Yang terakhir saat duduk dibangku Perkuliahan, aku di perkenalkan dengan salah satu organisasi besar di Sumatera utara yakni HIMMAH(Himpunan mahasiswa Al washliyah) sehingga membantuku belajar tentang Leadership,mandiri serta tentang kebersamaan. Selain itu, aku dan bersama 2 orang temanku juga mendirikan wadah olahraga dikampusku yang bersifat eksternal yaitu CFUMN (Community Football Universitas Muslim Nusantara) pada tahun 2017 yang aktif hingga sekarang. Tidak sampai disitu, Di tahun yang sama, aku juga diberi kesempatan mengikuti kegiatan Mahasiswa Nasional di Jawa barat(2017) dan mungkin masih banyak lagi kegiatan yang tidak bisa ku perjelaskan satu persatu.

Ahh sudahlah, aku salah, aku minta maaf yang sebelumnya sudah menganggap bahwa petualangan masa laluku tidak menyenangkan yang menyakiti masa kecilku.ternyata hidup ini seimbang. Terima kasih kepada orang tua ku yang telah menempah mental sebesar butiran debu ini sedemikian rupa sehingga membuatku semakin mengetahui bahwa hidup ini sedang baik-baik saja. Sekali lagi maaf,aku benar-benar keliru dimasa itu!
Waktu terus berjalan dan usia ini pun membawaku di masa yang paling menantang. "Mohon jangan sampai berikan masa muda ini tetap di posisi yang keliru lagi, keluarkanlah rasa ini dari zona nyaman". Ucapku(diskusi sendiri sembari menikmati secangkir kopi).

Selalu terpikirkan, sebagai bentuk ucapan terima kasih terhadap kampung halaman yang sudah menerima jiwa raga ini apadanya, namun pengabdian sebagai rasa penghormatan dan kecintaan terhadap kampung halaman belum juga terwujudkan. Padahal aku dan keluarga,saudara,tetangga dan juga teman sebaya sudah lama menikmatinya.

Sekarang aku sudah mengerti, ternyata petualanganku lebih menyenangkan dari apa yang selama ini kubayangkan. Perantauan hanyalah tempat ajang mencari wawasan serta pelampiasan dan juga menambah pengalaman.
Nyatanya, kampung halamanlah jadi tujuan dalam pengabdian.

Salamku, dari tebing lae cinendang Desa pakiraman.

Komentar